GURU yang DIRAMPAS HAKNYA
oleh Alip yang diadopsi dari
karya Yetri Erni Yenti
Guru
seharusnya menjadi sosok panutan yang digugu dan ditiru. Ditangannyalah dititipkan kaum
muda untuk dikembangkan menjadi insan yang menjunjung tinggi moralitas dan
martabat kemanusiaan. Jangan tanyakan
berapa gaji yang diperoleh seorang guru karena itu tak sebanding dengan apa
yang telah mereka lakukan. Dedikasi dan jasa guru pada upaya pencerdasan bangsa
akan selalu terukir sekalipun napas telah terpisah dari raga.
Dewasa
ini, pandangan terhadap figur mulia seorang guru mulai luntur. Hal ini
tercermin dari banyaknya kasus yang menimpa guru. Guru seolah berada
dipersimpangan jalan. Dalam menjalankan tugasnya, guru kini sering dibanyangi
berbagai ancaman mulai dari yang ringan sampai dengan masuk jerusi besi.
Kondisi
sekarang sangat berbeda dengan masa lampau. Dimasa lampau, tindakan guru
menegur murid merupakan tindakan yang normal dan itu merupakan bentuk dari
perhatian seorang guru. Tak heran, guru zaman dulul sangat berwibawa dan sangat
disegani dimata siswa dan masyarakat. Zaman dulu, jika guru sudah menatap siswa
dengan tatapan diam, maka siswa pun akan dengan segera menyadari kesalahannya. Tak
ada satupun yang melaporkan atau menuduh guru telah melakukan pelanggaran HAM
karena telah menegur atau memberikan sanksi atas kesalahan siswanya.
Tetapi
apa mau dikata, zaman dulu dengan zaman serba canggih seperti saat ini sudah
sangat berbeda. Dulu, guru adalah teladan yang dihormati, berbeda dengan zaman
sekarang, guru melakukan sikap disiplin terhadap siswanya akan dianggap sebagai
bentuk pelanggaran HAM. Tidak mengherankan, jika sering kita lihat kasus yang
sangat tidak layak siswa terhadap guru yang berdampak pada runtuhnya moralitas
kaum muda.
Pada
saat ini, sering kita jumpai tingkah laku siswa yang tidak terpuji bahkan
tergolong sebagai anak yang tidak paham sopan santun, etika dan tata krama. Contohnya
yaitu siswa dengan santainya tidur pada saat jam pelajaran, bahkan ada juga ketika
guru sedang menerangkan materi pelajaran, siswanya malah asyik berbincang
dengan teman-temannya. Kenyataan ini semakin mempertegas tentang pentingnya
pendidikan karakter bagi siswa. Pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada
penyampaian materi akademik saja, tetapi juga mengembangkan etika dan sopan
santuntentang bagaimana seharusnya siwa bersikap dan menghormati gurunya.
Komentar
Posting Komentar